Oleh : Aufa Chaidar Jafar (Mahasiswa STAI Al Anwar Sarang Rembang)
Gunung Sari, Lombok Barat —viralnya serial Malaysia berjudul Bidaah memicu terungkapnya kasus pelecehan seksual di sebuah pondok pesantren di Gunung Sari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Serial yang menampilkan karakter jahat Walid itu mendorong keberanian para korban untuk bersuara mengenai dugaan tindakan kriminal yang dilakukan oleh AF, ketua yayasan dan pemimpin ponpes.
AF kini telah ditangkap oleh kepolisian
setelah diduga melakukan pencabulan terhadap puluhan santriwati selama
bertahun-tahun, yaitu mulai tahun 2016 hingga 2023. Kasus ini tidak hanya
mengagetkan masyarakat, tetapi juga menggoyang keyakinan terhadap lembaga
keagamaan yang selama ini dianggap suci.
Tinjauan Teori Identitas dalam Perkara
AF
Dalam pandangan teori identitas, situasi
ini menunjukkan bagaimana pengelolaan identitas sosial dan religius dijadikan
sarana untuk melakukan kekerasan seksual.
Identitas Pelaku sebagai Otoritas
Religius
AF menciptakan gambaran dirinya sebagai
pemimpin spiritual yang dihargai, dengan pengaruh simbolik yang kuat di
komunitas ponpes. Ia tidak hanya dianggap sebagai pengajar, tetapi juga sebagai
individu yang memiliki akses kepada 'rahmat' — konsep suci dalam iman
keagamaan. Identitas ini memberi AF kekuasaan penuh, sehingga semua
tindakannya, termasuk yang menyimpang, sulit untuk dipertanyakan.
Identitas Korban sebagai Santri yang
Taat
Santriwati dalam konteks itu menghayati
identitas sebagai santri yang harus patuh dan menghormati guru. Penyerahan ini,
dalam konteks hubungan kekuasaan yang tidak seimbang, membuat korban mudah
terpengaruh secara psikologis. Keengganan untuk melawan atau melaporkan bukan
hanya disebabkan oleh rasa takut, tetapi juga oleh krisis identitas:
mempertanyakan pemimpin spiritual berarti menantang nilai-nilai yang selama ini
mereka pegang.
Rekonstruksi Identitas Korban Setelah
Viral Bidaah
Serial Bidaah berperan sebagai refleksi
yang menunjukkan bahwa pengalaman mereka bukanlah suatu bentuk
"pengabdian" atau "ibadah", melainkan suatu bentuk
eksploitasi. Pembicaraan yang dimulai di grup WhatsApp alumni ponpes menandai
permulaan rekonstruksi identitas korban: dari santri yang patuh menjadi
penyintas yang berani menuntut keadilan.
Cara Kerja AF dan Manipulasi Identitas
Berdasarkan informasi dari Ketua Lembaga
Perlindungan Anak (LPA) Mataram, Joko Jumadi, AF memanfaatkan alasan spiritual
dengan menjanjikan "keberkatan di rahim" kepada korban untuk dapat
melahirkan anak-anak yang saleh. Janji ini merupakan sebuah manipulasi
keagamaan yang memanfaatkan identitas korban sebagai orang yang beriman.
Dalam proses itu, korban dibawa ke
ruang-ruang tertentu — sering kali di tengah malam — dan mengalami pelecehan
seksual, dari mulai perabaan hingga dugaan hubungan intim. Sebagian korban yang
bisa menjaga batas pribadi mereka menolak untuk "diberkati", namun
tetap menjadi sasaran pencabulan.
Evolusi Kasus: Masih Tetap Berlanjut
Hingga kini, Polresta Mataram telah
mendapatkan enam laporan resmi, dengan data sementara yang memperlihatkan
sekitar 20 calon korban. Polisi masih melakukan investigasi lebih lanjut
terhadap lokasi kejadian yang disebutkan oleh korban, serta memverifikasi
jumlah korban yang sebenarnya.
AF telah dipecat dari posisinya setelah
yayasan melakukan investigasi internal, di mana ia mengakui sebagian besar
kesalahannya. Akan tetapi, proses hukum tetap dilanjutkan untuk menjamin
keadilan bagi para korban.
Krisis Identitas Kolektif dan Aspirasi
Baru
Kasus ini tidak hanya menghancurkan identitas pribadi korban, tetapi juga mengguncang identitas kolektif lembaga pesantren sebagai lambang moral dan keagamaan serta hilangnya repurtasi pemimpin ponpes karena banyaknya kasus-kasus oleh oknum pemimpin ponpes dizaman sekarang ini diantaranya
Masyarakat saat ini menghadapi pertanyaan
penting mengenai cara menjaga agar pesantren tetap berfungsi sebagai tempat
yang aman untuk pendidikan agama, tanpa disalahgunakan oleh orang-orang yang
menyalahgunakan kekuasaan.
Di sisi lain, keberanian para korban untuk
berbicara menandakan munculnya identitas baru: korban yang kini bertransformasi
menjadi penggerak perubahan sosial, mengungkap kejahatan yang sebelumnya
tersembunyi di balik tirai kesucian.
